CUKUP BERUNTUNG (Keluarga) - CHAPTER 1.2

Cerita gue masih panjang banget,kalau sebelumnya gue uda bercerita tentang sahabat gue,sekarang gue mau cerita tentang kehidupan gue bersama keluarga. Gue berasal dari keluarga yang cukup sederhana,tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di dalam gang dengan kondisi rumah yang uda tua dan dinding nya juga sudah mulai rusak. Tinggal bersama bokap,nyokap dan 2 adik gue yang masih kecil yang saat itu masih SD dan TK. Saat itu gue sendiri masih duduk di bangku sekolah 1 SMA.

Ada kesalahan yang pernah gue lakuin dan ga akan pernah gue lupain,karena kesalahan gue udah cukup membuat orang tua gue sakit hati saat itu. Waktu itu kejadiannya saat gue SMP dan akan masuk ke SMA,gue kepengen masuk ke sekolah yang sama dengan sahabat gue. Sekolah yang terhitung cukup mahal buat keluarga yang ekonomi nya pas-pasan. Saat itu demi untuk masuk sekolahan itu gue sampai ngelawan orang tua gue sendiri,tetap ngotot dan memaksa mereka buat ngedaftarin gue ke sekolah itu. Mereka berusaha membuat gue mengerti akan keadaan mereka yang memang sedang susah-susahnya pada waktu itu,tapi memang gue nya yang masih kekanak-kanakan dan labil langsung ngejawab dengan enaknya,gue bisa hasilin duit sendiri buat sekolah nanti. Akhirnya kedua orang tua gue nyerah dan dengan terpaksa mendaftarkan gue ke sekolah mahal tersebut meskipun itu artinya mereka harus banting tulang lebih keras dari sebelumnya.Senang rasanya kalau akhirnya gue bisa lanjutin sekolah tingkat SMA di sekolah mahal itu.

Setahun berlalu,ternyata keadaan ekonomi keluarga gue malah memburuk. Uang kontrakan yang harus segera diperpanjang,Uang pendaftaran ulang untuk melanjutkan sekolah gue ke tingkat 2 SMA,uang pendaftaran ulang sekolah adik-adik gue. Dari sejak itu akhirnya gue baru bisa membuka pikiran gue,ini semua adalah hasil dari kesalahan gue setahun yang lalu karena memaksa orang tua gue buat sekolahin gue disekolah mahal.

Saat itu bokap gue manggil dan coba untuk bicara sama gue tentang keuangannya. Kira-kira dengan lemas bokap bicara seperti ini, "Alfian,kamu tahu kan keungan papa yang sekarang makin susah? harus bayar perpanjangan kontrak rumah juga sekolah adik-adik kamu,setelah papa pikir,papa punya pilihan buat kamu". Gue cukup kaget dibuatnya karena bokap bilang, kalau gue tetap mau ngelanjutin sekolah maka gue harus ngorbanin adik-adik gue untuk sementara. Mereka harus berhenti sekolah sementara gue terus ngelanjutin SMA sampai tamat. Saat itu gue tercengang,gak bisa ngomong apa-apa,masuk ke kamar,menyendiri,merenung. Gue bingung apa yang harus gue perbuat,adik-adik gue masih kecil dan mereka harusnya duduk dibangku sekolah,masa kan gue harus korbanin ade gue demi kepentingan gue dan kesalahan gue setahun lalu?.

Beberapa hari berlalu,akhirnya gue harus membuat keputusan gue dengan terpaksa karena senggang waktu pendaftaran ulang sekolah yang makin dekat. Suasana saat itu cukup menyedihkan dan gue ga akan pernah lupa bagaimana rasanya harus berkorban. Untuk sekali itu gue mengambil keputusan yang cukup benar,gue bilang ke bokap untuk tetap melanjutkan sekolah adik-adik gue. Mereka masih kecil dan mereka pantas untuk sekolah,biar gue aja yang berhenti. Sedih rasanya harus putus sekolah ditengah jalan,tapi itu adalah pengorbanan dan konsekuensi dari kesalahan gue sebelumnya.

Setelah beberapa bulan berlalu gue mulai bisa lega dan berpikir jernih. Menurut gue pengorbanan yang gue lakukan enggak setara dengan yang orang tua gue lakukan buat gue. Dan putus sekolah bukan berarti gue enggak bisa sukses,suatu hari gue akan tunjukin ke orang tua gue kalau keluarga kita enggak perlu hidup susah lagi.
_________

Orang tua anda mungkin terlihat terlalu kolot dan terlalu mencampuri urusan anda,tapi ingat lah akan semua yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan anak-anak mereka meskipun itu artinya harus mengorbankan diri mereka sendiri dari segi pekerjaan yang makin berat juga hati mereka yang cukup tersakiti akan perbuatan anak-anaknya. Sayangilah mereka sebagaimana mereka sayang kepada anda!