LOVER BUT A LOSER - CHAPTER 2.2

Hari ini adalah hari valentine,hari yang cukup menyenangkan buat orang-orang yang menyimpan perasaan khusus pada seseorang. Mereka saling berbagi kasih dengan coklat,surat,bunga dan hal-hal lainnya sebagai pengekspresian perasaan mereka pada orang-orang yang spesial. Untuk gue orang yang gak populer di sekolah memang agak menyedihkan karena gue gak mungkin dapat banyak coklat atau hal- hal lainnya. Tapi saat itu satu hal yang buat gue benar-benar bahagia, ya! dari beberapa coklat yang gue dapat saat itu salah satunya adalah dari Vin. Sebuah coklat dengan bungkusan kotak kecil yang mungkin menurut dia biasa-biasa saja,tapi saat menerima coklat itu rasanya senang bukan main.

Berbulan-bulan sudah semenjak gue kenal dengan Vin,dan selama itu pun dia selalu bisa buat gue semangat sampai saat ini. Gue suka sama dia,dan perasaan ini gak mungkin salah lagi,tapi yang jadi masalahnya gue ini bukan orang yang cukup berani untuk bicara apa adanya kalau gue suka sama dia. Saat itu pun mulai pikiran gue jadi kacau dan berpikir yang enggak-enggak. Dia orang yang punya,sedangkan gue orang yang sederhana dan ga punya apa-apa. Bagaimana bisa gue buat dia bahagia kalau gue ga punya apa-apa?. Itu adalah pertanyaan yang tersulit buat gue dan selalu muncul ke pikiran gue bahkan untuk beberapa tahun setelahnya.

Gue selalu menghindar dari pembicaraan yang menyangkut soal relasi. Sampai suatu saat Vin bertanya ke gue tentang sesuatu yang buat gue sedih. "Fian,teman gue ada yang nembak gue,menurut lu gimana? atau gue terima aja ya? kalau gue tolak rasanya ga tega,dan gue kasihan sama dia" ,kira-kira begitu pernyataan yang dia kasih ke gue saat itu. Berat buat gue untuk menjawab pernyataan dari dia. Dan memang saat itu pun gue gak pernah ngasih tau perasaan gue ke dia. Saat itu gue dengan keegoisan gue yang tersembunyi mencoba menjawab pernyataan dia itu. "Kalau memang lu suka sama dia yah terima aja,dan kalau memang lu kasihan mendingan jangan lu terima,karena ujungnya nanti malah dia bisa sakit hati kalau dia tahu sebenarnya lu teima cintanya karena kasihan". Gue jawab dengan harapan diia ga akan terima cinta dari temannya itu.

Setelah beberapa lama semenjak pernyataan yang dia ucapkan ke gue. Gue merasa dia mulai menghindar dari gue,tapi gue enggak tahu apa sebabnya,dan memang saat itu dengan bermodalkan alasan kalau dia sedang sibuk belajar untuk ulangan yang menurut gue logis,maka untuk seminggu gue ga ganggu waktu dia. Dan setelah seminggu itu berlalu gue enggak pernah dengar kabar dari dia lagi,gue berusaha untuk hubungi dia tapi ga pernah ada balasan. Setelah gue cari tahu,ternyata dia sudah punya pacar.

Yang gue pikirkan saat gue tahu semuanya saat itu. Gak ada sama sekali alasan buat gue untuk membenarkan diri gue sendiri dan menyalahkan orang lain. Memang itu adalah kesalahan gue. Seandainya saat itu gue peka saat dia memberi pernyataan itu ke gue,harusnya saat itu gue mengungkapkan semuanya. Kenapa saat itu gue gak bilang ke dia kalau gue suka sama dia,mungkin ada kesempatan buat gue untuk tetap dekat sama dia. Semuanya terlanjur dan gak bisa diulang,itu adalah kesalahan gue karena gue ga punya keberanian dan terlalu banyak berpikir tentang kekurangan gue.

Satu-satunya yang bisa gue kenang cuma sekotak coklat dari dia yang enggak pernah gue makan,hanya gue simpan dan gue pajang. Valentine yang menyimpan moment indah pada sekotak coklat kecil. Cukup 3 detik buat gue jatuh cinta sama dia,tapi butuh waktu yang sangat lama buat gue untuk melupakan dia. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat gue,tapi dari saat itu pola pikir gue masih sama. Gue ga punya apa-apa untuk membuat orang yang gue sayang bisa bahagia. Entah sampai kapan gue bisa memberanikan diri.

_________

Cobalah untuk peka pada perasaannya,dan cobalah untuk memberanikan diri,jangan sampai anda kehilangan kesempatan,karena sesaat anda kehilangan kesempatan tersebut maka dia tidak akan kembali untuk kedua kalinya.